Pada dasarnya nama Jabariyah itu berasal dari kata arab yaitu fi'il madhi dari جبّر artinya ialah memaksa atau terjadi keterpaksaan. Sedangkan menurut Al-Syahrastani Jabariyah berarti menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakekat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada Alloh swt. 



Pendiri aliran Jabariyah yaitu Ja'ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan. Ja'ad orang pertama yang memperkenalkan ajaran Jabariyah/Predestination (keterpaksaan) manusia, maka Jahm bin Shafwan adalah orang pertama yang menyebarkannya, sehingga aliran ini sering disebut juga dengan aliran Jahamiyah. Dia seorang mawali (budak yang sudah dimerdekakan) yang berasal dari Khurasan (Iran) dan menetap di Kufah (Iraq). Alirannya lahir di Tirmiz (Iran utara). Jahm bin Shafwan dibunuh oleh Salma bin Ahwaz Al-Mazini penguasa yang ditunjuk oleh Bani Umayyah di Marwa (kini wilayah Turkmenistan, Rusia). Dia dibunuh bukan karena ajaran yang dikemukakannya, tapi karena keterlibatannya dalam tindakan pemberontakan terhadap Bani Umayyah. 


Setelah kita tau bersama bahwa paham yang dibentuk oleh Jahm bkn Shafwan ini memang belum terlalu tersebar luas di seantero nusantara ,namun hal ini perlu kami jelaskan secara terperinci baik dalam segi ajaran-ajaran pokok mereka sehingga ,kita bisa memahami dan langsung mengambil tindakan bila pemahaman ini terdengar disekeliling kita.


Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang ajaran-ajaran pokok dari aliran sesat ini mari sejenak kita mendengar penjelasan dari Ust. H. Abdul Somad .Lc .MA

Ada beberapa sumber-sumber pokok aliran Jabariyah diantaranya:
Masalah sifat Alloh swt.

Jahm bin Shafwan tidak membenarkan Allah swt diberi sifat-sifat yang terdapat pada makhluk-Nya. Yang demikian itu membawa penyerupaan Allah swt dengan ciptaan-Nya. Namun diakui pula bahwa banyak ayat Al-Qur'an yang menyebutkan Allah swt mendengar, melihat, berbicara dan sebagainya. Ayat-ayat tersebut tidak dilihat secara lahiriyah (tekstual) melainkan dipahami secara konstekstual.
  • Tentang Surga dan Neraka. 
Surga dan neraka serta aktivitas penghuninya akan berakhir. Firman Allah swt yang berbunyi (mereka kekal di dalamnya) disebutkan majas, bukan kekekalan yang sesungguhnya sebab yang kekal hanyalah Allah swt. Dalam ayat lain Allah swt berfirman :
Artinya : " Mereka (penghuni surga dan neraka) kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali Allah swt menghendaki yang lain …".(QS. 11 : 107 - 108).

Ayat tersebut menngandung syarat dan pengecualian kekekalan surga dan neraka. Bagi Jabariyah pahala dan siksaan pun merupakan paksaan karena didasarkan pada keyakinan bahwa manusia tidak memiliki pilihan dan daya. Manusia dalam paham ini hanya merupakan wayang yang digerakkan dalang.
  • Masalah Iman dan Kufur. 
Iman dan kekafiran bergantung sepenuhnya kepada keyakinan di dalam hati dan orang yang telah mengenal baik dengan Allah swt kemudian ingkar dengan lidahnya tidak akan menjadi kufur karenanya. Bahkan juga tidak menjadi kafir sungguh pun ia menyembah berhala, menjalankan ajaran Yahudi atau Nasrani kemudian mati, bagi Allah swt orang demikian tetap merupakan seorang mukmin yang sempurna. Firman Allah swt :
Artinya : "Bukanlah kamu yang menghendaki, tetapi Allahlah yang menghendaki". (QS. Al-Ihsan : 30).

Tentang Qudrah dan Iradah Manusia.
Manusia tidak mampu melakukan suatu perbuatan, tidak memiliki kemauan, kemampuan dan pilihan. Allahlah pencipta semua perbuatannya sebagaimana terjadi pada benda-benda. Misalnya manusia membaca, menulis, mendengar maka hal itu sama saja dengan Allah swt membuat pohon tumbuh, berbuah, air mengalir dan sebagainya.
Firman Allah swt :
Artinya : "Dan Allahlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat". (QS. As-Shaffat : 96).

Ketika manusia dikatakan bahwa berbeda dengan benda mati karena manusia mempunyai kekuatan, kehendak dan pilihan, Allahlah yang menciptakan dalam diri manusia kekuatan atau daya, kehendak dan pilihan yang dengannya manusia bertindak.

Dengan melihat pendapat Jabariyah seperti yang disebutkan di atas, maka apakah artinya Allah swt mengutus Rosulullah saw dan menurunkan al-Qur'an yang penuh dengan perintah, larangan, janji dan ancaman ? Tidakkah itu menjadi sia-sia belaka ?

Semuanya itu tidak sia-sia, karena semuanya itu pun untuk menjalankan ketentuan Allah swt. Keadaan itu tidak bedanya dengan Allah swt menurunkan hujan, menerbitkan matahari, bulan dan sebagainya.

Terimakasih telah berkunjung ke blog kami . Bantu kami dengan follow blog kami dan subscribe channel youtube kami di www.youtube.com/SumberMotivasi